Siapa yang Akan Memimpin Layanan Teknologi 5G di ASEAN ?

 Negara-negara Asia Tenggara sepertinya agak tertinggal dalam penyebaran jaringan seluler generasi kelima, meskipun Singapura dalam hal ini di gadang – gadang dapat memimpin perlombaan teknologi 5G. Perusahaan konsultan manajemen AT Kearney menerbitkan sebuah laporan pada akhir September 2019 yang memproyeksikan bahwa penetrasi 5G akan mencapai paling banyak 40% di hampir semua negara Asia Tenggara pada tahun 2025. Disana Singapura akan mengungguli negara-negara lainnya, dengan tingkat penetrasi yang diharapkan mendekati 60% pada tahun 2025. 

Laporan tersebut juga mengatakan bahwa negara-negara seperti Thailand, Vietnam dan Filipina akan berada dalam situasi rugi di mana 5G telah diluncurkan secara selektif, banyak perusahaan tidak mampu membayar premi untuk layanan jaringan 5G tersebut. Dalam laporan ini, konsumen dan bisnis enggan mengeluarkan uang ekstra karena mereka merasakan manfaat yang terbatas dibandingkan jaringan 3G atau 4G yang ada sebelumnya. Operator akan merespons dengan berfokus pada pengembalian investasi mereka di jaringan yang ada, membatasi perluasan infrastruktur 5G. Laporan tersebut memperingatkan bahwa dalam situasi ini, 5G akan menjadi seperti hanya menjadi lapisan teknologi lain, daripada sebuah terobosan.


 

Penulis utama laporan AT Kearney, Nikolai Dobberstein, mengatakan regulator akan memainkan peran sentral dalam pengembangan jaringan seluler generasi mendatang. Dia mengatakan pihak berwenang perlu memastikan ketersediaan spektrum dalam jangka pendek, mendorong pembagian infrastruktur, dan memelihara kemampuan keamanan siber nasional. Potensi keseluruhan peluncuran 5G di ASEAN sangat besar, namun untuk memenuhi potensi penuh, kawasan ini perlu mengatasi tantangan utama. Para ahli percaya perbedaan infrastruktur teknologi di antara negara-negara Asia Tenggara akan menyebabkan hasil yang beragam dalam penyebaran.

Ada juga laporan lain yang dirilis oleh International Institute for Management Development, mereka menyoroti kesenjangan digital antara Singapura dengan negara – negara tetangganya. Berdasarkan World Digital Competitiveness Ranking yang diterbitkan pada bulan September, Singapura menempati urutan kedua di belakang AS, sementara anggota ASEAN lainnya seperti Thailand menempati urutan ke-40, Filipina ke-55, dan Indonesia ke-56. Pemeringkatan didasarkan pada faktor-faktor seperti kemampuan ekonomi untuk mengembangkan inovasi digital baru dan kesiapan untuk perkembangan baru.



Adopsi 5G akan sangat bergantung pada konteks negara dalam kesiapan digital. Ketersediaan spektrum yang lambat untuk layanan 5G dan peluncuran jaringan yang kurang optimal akan menjadi tantangan terberat bagi pemerintah. Tetapi bahkan jika spektrum dan dukungan peraturan sudah tersedia, adopsi dan penggunaan tetap juga tidak pasti.

Penyebaran 4G di wilayah ASEAN dapat berfungsi sebagai titik referensi bagaimana perlombaan 5G dapat berjalan dengan baik. Singapura merupakan pasar ASEAN pertama yang meluncurkan jaringan 4G pada 2011, diikuti Filipina pada 2012, Malaysia dan Thailand pada 2013, Kamboja dan Indonesia pada 2014, Myanmar pada 2016, dan Vietnam pada 2017. Jika sebuah perusahaan telekomunikasi memiliki jaringan 4G yang relatif matang, ini berarti investasi dalam 4G telah diperoleh kembali dan perusahaan tersebut mungkin siap untuk peningkatan berikutnya, dibandingkan dengan sebuah perusahaan telekomunikasi yang baru saja meluncurkan jaringan 4G.



Dengan kurangnya aplikasi perusahaan dan konsumen, perusahaan telekomunikasi di Asia Tenggara umumnya akan 'wait and see' terhadap hasil penggunaan 5G yang matang di pasar besar lainnya sebelum membawanya ke pasar lokal mereka.

Siapa yang memenangkan perlombaan 5G bisa jadi karena geografi sederhana seperti Singapura yang wilayahnya sangat kecil disbanding negara ASEAN yang lain. Penyebaran menjadi lebih kompleks jika jaringan seluler generasi berikutnya dimaksudkan untuk mencakup area yang lebih luas, karena investasi base station harus dipercepat agar hasilnya dapat menyebar cepat.

Karena itu, Singapura secara alami akan memimpin dalam penetrasi 5G karena ukurannya yang kecil. Untuk meluncurkannya di Singapura jauh lebih sederhana. Untuk meluncurkannya di Filipina atau Indonesia jauh lebih sulit untuk mendapatkan jangkauan melalui jaringan. Jadi akan memakan waktu lebih lama untuk mendapatkan penetrasi yang meliputi banyak wilayah.

Indonesia Tetap Menarik


Setelah perebutan vendor 5G Barat dan Timur di Singapura, ladang pertarungan selanjutnya adalah Indonesia, sebuah market terbesar di Asia Tenggara (ASEAN). Namun Indonesia belum juga kunjung mengumumkan kapan mau launching 5G ? Indonesia seperti gadis cantik yang menjadi lirikan semua vendor 5G.

Indonesia merupakan pasar smartphone terbesar ketiga di kawasan Asia-Pasifik. Potensi bisnis yang bisa diraup operator selular di Indonesia dari teknologi 5G merupakan yang terbesar di Asia Tenggara, per tahunnya mencapai Rp 27 triliun, terbesar di ASEAN. Berdasarkan riset AT Kearney tahun 2019, prediksi monetisasi 5G oleh operator di Indonesia mencapai sekitar US$ 1,4 - 1,83 juta pada 2025. Nilai ini lebih tinggi dari Thailand dan Malaysia yang masing-masing hanya berkisar US$ 850 - 1,17 juta dan US$ 660 - 900 ribu.

Pemerintah Indonesia sepertinya tidak mau sekadar mengikuti tren 5G yang didorong pemanfaatannya oleh negara-negara produsen 5G. Indonesia sepertinya ingin melihat dan memanfaatkan peluang hadirnya teknologi 5G ini. Indonesia harus punya strategi dan tidak ikut - ikutan, Indonesia harus menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Pasar Indonesia besar, demand-nya besar, jangan sampai hanya belanja perangkat 5G saja, jangan sampai hanya dimanfaatkan oleh para produsen 5G.



Negara-negara ASEAN secara kolektif telah membentuk ekonomi terbesar keenam di dunia, ASEAN selalu menarik bagi pasar bisnis dunia. Huawei telah aktif di kawasan ini selama kurang lebih 20 tahun. 5G diramalkan akan memberi peluang industri Asia Tenggara senilai $ 1,2 triliun, dengan jumlah pelanggan 5G diprediksi akan mencapai 80 juta.

Sejak dulu ASEAN tipikalnya memang sulit untuk merata, adanya perbedaan jumlah penduduk, luas wilayah, GDP, digital index, human development index, mobile cellular penetration, internet speed DL/UL index, latency index, jumlah startup, ketersediaan frekuensi, ketersediaan regulasi 5G, dan seterusnya.

Dari Rangking Digital Competitiveness 2019, Singapura menempati rangking kedua dunia di bawah AS, Thailand di rangking 40, Philipina dirangking 55 dan Indonesia di rangking 56.
Gambar 5
Penetrasi internet, Brunei sudah mencapai 95 %, Singapura 88 %, Indonesia 64 % sementara Laos masih 43 % dan Myanmar masih 41 %.

Pengguna media sosialnya, Brunei mencapai 94 %, Malaysia sebanyak 81 %, Indonesia 59 5 sementara Laos masih di 43 % dan Myanmar masih 41 %.

Penetarsi pengguna ponsel, Philipina mencapai 159 %, Vietnam 150 %, Indonesia 124 %, sementara Laos baru 79 %.

Dari tarif broadband internet, Singapura paling rendah US$0.05 per megabit (Mbit) per bulan, diikuti Thailand (US$0.42); Indonesia (US$1.39); Vietnam (US$2.41); Philipina (US$2.69) dan Malaysia (US$3.16).

Juni 2019, Singapura sudah mengalokasikan 40 juta dolar Singapura untuk membangun ekosistem 5G. Negara ASEAN yang lain berapa alokasinya? Masih ada digital divide yang masih cukup lebar di antara negara - negara ASEAN.   

Ditulis oleh : Adrian S