Bagaimana kabar Teknologi 5G di Indonesia

 Ketika operator seluler Indonesia XL Axiata memamerkan teknologi 5G terbaru dengan mengadopsi teknologi dual core milik Ericsson, ini merupakan bentuk persiapan diri untuk mengadopsi teknologi 5G. Persiapan XL Axiata sepertinya sangat serius di semua aspek, belum lagi XL Axiata melakukan penambahan dan memodernkan jaringan backbone fiber optiknya di seluruh Indonesia.


XL Axiata, yang merupakan operator seluler terbesar kedua di Indonesia bukan satu-satunya pemain yang serius dengan pengembangan 5G di salah satu wilayah pasar terbesar di Asia Tenggara, di sana ada Telkomsel sebagai pemain nomor satu, ada juga Indosat sebagai pemain ketiga, disusul oleh Hutchison 3 dan Smartfren. Selain operator, para vendor raksasa telekomunikasi seperti Huawei, Ericsson, dan Nokia juga ikut bertumpuk di Indonesia.


Namun, yang agak aneh adalah ketika dunia sedang demam – demam nya teknologi 5G, Indonesia berada di posisi yang tidak jelas di mana mereka berdiri untuk teknologi ultrafast 5G. Pejabat Kementerian Komunikasi mengatakan bahwa mereka tidak akan terburu-buru untuk meluncurkan layanan 5G, meskipun Presiden Joko Widodo menyatakan ingin menciptakan ekonomi digital terbesar di kawasan ASEAN.


Kurangnya spektrum frekuensi yang tersedia untuk penggunaan 5G memang telah menjadi penghambat adopsi 5G. Kementerian sedang sangat serius mempertimbangkan untuk menggunakan pita 3,5 GHz, yang saat ini digunakan untuk satelit. Namun spektrum tersebuat tidak bisa tersedia dalam waktu dekat, bisa 2023 atau 2025.


Kementrian juga mengutip tentang pasar Indonesia yang sensitif terhadap harga, mereka beralasan bahwa konsumen Indonesia rata-rata tidak mungkin membayar biaya lebih tinggi untuk kecepatan yang lebih cepat dan menyarankan penyedia layanan 5G agar memfokuskan targetnya pada pelanggan korporat terlebih dahulu.


Mengingat ketidakpastian atas komitmen pemerintah Indonesia terhadap teknologi baru 5G, maka prediksi kapan layanan 5G diluncurkan sangat bervariasi, mulai dari 2023, 2024 atau 2025. Meskipun demikian, persaingan antar operator untuk meluncurkan layanan komersial 5G semakin memanas.


Telkomsel, sebagai operator seluler terbesar di Indonesia, telah menandatangani kontrak dengan Ericsson untuk peningkatan core network guna mempersiapkan 5G. Operator lainnya, Indosat Ooredoo juga telah mengadakan uji coba dengan Ericsson. XL Axiata, salah satu unit dari Grup Axiata Malaysia, mengatakan akan terus memperluas infrastruktur serat optik nasionalnya untuk dapat mendukung layanan 5G, yang membutuhkan tingkat bandwidth yang lebih tinggi untuk memproses transfer data yang lebih cepat. XL Axiata telah sukses memamerkan tidak hanya panggilan telepon holografik, tetapi juga game berbasis cloud menggunakan teknologi yang disediakan oleh Ericsson. Nokia juga optimistis berbagai ambisi digital Indonesia akan memacu belanja untuk 5G dan infrastruktur teknologi lainnya.


Indonesia adalah salah satu area fokus utama bagi para vendor raksasa telekomunikasi, dan mereka melakukan segala upaya untuk berinvestasi dari software hingga hardware di pasar telekomunikasi terbesar asia tenggara ini.


Dengan fokus pada Industri 4.0 dan inisiatif digital yang berani untuk semua setelah tahun 2020, Indonesia mungkin menjadi negara terbesar di kawasan regional ASEAN dalam hal pengeluaran untuk inisiatif TI nya.


Inisiatif "Making Indonesia 4.0" dari Kementerian Perindustrian yang diluncurkan pada April 2019 lalu akan meningkatkan sektor manufaktur negara melalui digitalisasi. Presiden Joko Widodo mengatakan inisiatif tersebut akan membantu Indonesia menjadikan Indonesia masuk dalam 10 besar ekonomi global pada tahun 2030, dari posisi ke-16 saat ini. “Making Indonesia 4.0” juga menetapkan tujuan untuk menjadikan Indonesia sebagai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020, sebuah ambisi besar yang dapat membantu menciptakan ekosistem regulasi yang lebih bersahabat dengan startup teknologi. Indonesia sekarang ini telah memiliki empat unicorn, termasuk raksasa ride-hailing Go-Jek.


Vendor dari China juga tidak mau ketinggalan untuk mengalihkan perhatiannya ke Indonesia. Baik pejabat Indonesia maupun operator telekomunikasi mana pun secara eksplisit tidak akan mengesampingkan kemitraan dengan Huawei walaupun AS tidak berhenti membujuk Indonesia untuk menghindari penggunaan perangkat dari China seperti Huawei.


Telkomsel, yang juga 35 persen sahamnya milik Singapore Telecommunications (Singtel), telah sukses melakukan uji coba 5G dengan Huawei selama Asian Games 2018 di Jakarta, dan mengumumkan kemitraan strategis terpisah untuk pengembangan 5G dengan Huawei. Operator Hutchison 3, perusahaan seluler milik konglomerat Hong Kong CK Hutchison Holdings, telah menggelar uji coba hologram 5G yang didukung peralatan dari Huawei, Nokia dan Qualcomm.


Vendor lain seperti ZTE, juga mengumumkan pada bulan Agustus 2019 bahwa mereka telah bermitra dengan Smartfren, anak perusahaan telekomunikasi konglomerat besar Indonesia, Sinarmas Group, untuk mendemonstrasikan aplikasi 5G untuk pelanggan perusahaan manufaktur. 


Pada bulan Juni 2019, ZTE juga telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan Telkom untuk membangun jaringan 5G dan menjajaki pengembangan 5G di Indonesia.


Beberapa perusahaan Indonesia, seperti XL Axiata, lebih suka bermitra dengan banyak vendor untuk peralatan 5G daripada hanya bergantung pada satu vendor. Kecenderungan ini, seiring dengan penerimaan nyata pemerintah dan banyak operator terhadap vendor China. Operator mengatakan bahwa setiap risiko terkait kemitraan dengan vendor China dalam hal sanksi AS masih "dapat dikelola".


Para vendor sendiri sebenarnya lebih khawatir pada kurangnya perhatian pemerintah dalam mengadopsi teknologi 5G. Ericsson telah menawarkan solusi perangkat lunak berbagi spektrum yang dapat mengaktifkan layanan 5G menggunakan pita yang ada, sementara Nokia mengatakan memiliki solusi untuk pita tinggi, menengah, dan rendah. Sementara Huawei, menyediakan aplikasi 5G augmented reality (AR) dan virtual reality (VR). 


Ditulis oleh : Adrian S