Penjelasan Lengkap 4G LTE indonesia masih lambat

Penjelasan Lengkap 4G LTE indonesia masih lambat

Perusahaan analis Open Signal belum lama mengeluarkan hasil risetnya yang bertajuk 'Laporan Pengalaman Jaringan Seluler Desember 2019'. Dalam laporan tersebut, Telkomsel dinobatkan sebagai operator telekomunikasi dengan koneksi internet tercepat di Indonesia.

Laporan yang dibuat OpenSignal menyebutkan, Telkomsel memiliki kecepatan unduh atau download hingga 12 Mbps. Sementara operator lainnya, yakni XL Axiata mendapatkan 8,7 Mbps, Indosat Ooredoo 6,6 Mbps, Hutchison Tri Indonesia 6,5 Mbps, dan Smartfren  4,7 Mbps.


Image By Open Signal


Kemudian untuk upload atau unggahan, Telkomsel juga memimpin dengan pencapaian 5,4 Mbps, XL Axiata 4,5 Mbps, Tri 4,0 Mbps, Indosat 3,6 Mbps, dan Smartfren 1,4 Mbps. Kecepatan Smartfren 4G lambat di posisi terakhir. Selain download, kecepatan upload juga sangat berpengaruh terhadap pengalaman pengguna saat berselancar di internet.

Image By Open Signal

Dalam menganalisis pengalaman internet kelima operator seluler di Indonesia, OpenSignal tidak hanya meriset kecepatan download dan upload. Mereka juga menganalisis kategori lain, seperti ketersediaan 4G, pengalaman streaming video, latensi, cakupan 4G, dan telepon berbasis aplikasi.

Image By Open Signal


Dari tujuh kategori, Telkomsel memenangkan enam kategori. Operator yang identik dengan warna merah itu, berhasil mendapatkan nilai terbaik di kategori pengalaman streaming video, telepon berbasis aplikasi, kecepatan download dan upload, latensi, serta cakupan 4G.

Telkomsel hanya kalah dari Smartfren terkait kategori ketersediaan internet 4G LTE. Dalam laporan, ketersediaan 4G Smartfren mendapatkan skor 96,4 persen. Sementara itu, Telkomsel mendapatkan 86,7 persen, diikuti Indosat 86,3 persen, XL 87 persen, dan Tri 90,9 persen.


Image By Open Signal


OpenSignal menilai kelima operator di Indonesia mengalami kenaikan soal ketersediaan 4G. Maka dari itu, ketersediaan 4G saat ini di Indonesia setidaknya mencapai 86 persen di seluruh jaringan, dengan Smartfren dan Tri mempunyai skor lebih dari 90 persen.

Laporan terbaru dari OpenSignal ini membandingkan kinerja lima operator seluler di Indonesia, yakni Telkomsel, Tri, Smartfren, Indosat Ooredoo, dan XL Axiata. Mereka menganalisis pengalaman para pelanggan kelima operator tersebut yang berada di 24 kota besar di Indonesia.

Perusahaan merisetnya selama periode 1 Agustus sampai 29 Oktober 2019. Total perangkat yang dianalisis untuk riset OpenSignal ini terkumpul sebanyak 1.854.821 unit.

Dari hasil studi Cuponation, kecepata rata-rata internet kabel di Asia tenggara berdasarkan 10 negara adalah 45,69 Mbps. Dimana indonesia menempati posisi kedua paling akhir dengan kecepatan download rata-rata 16.34 Mbps dan kecepatan upload rata-rata 9.68 Mbps jauh tertinggal dari negara tetangga terdekat, Malaysia dengan kecepatan download rata-rata 70.18 dan kecepatan upload rata-rata 44.5. Malaysia diungguli singapura dengan kecepatan download rata-rata lebih dari 180 Mbps dan kecepatan upload rata-rata lebih dari 200 Mbps, dengan ini singapura menjadi negara dengan internet kabel tercepat se-asia tenggara.

Baca Juga:

Sementara untuk kecepatan internet seluler Indonesia berdasarkan studi Cuponation juga tidak lebih baik, dengan kecepatan rata rata di Asia tenggara adalah 21.82 Mbps, Indonesia menempati peringkat paling akhir dengan kecepatan download rata-rata 10.62 Mbps dan kecepatan upload rata-rata 8.35 Mbps. Kamboja di peringkat sembilan dengan kecepatan download rata-rata 14.31 dan kecepatan upload rata-rata 10.85, dan singapura masih di puncak dengan kecepatan download rata-rata 55 Mbps dan kecepaan upload 18.82 Mbps

Biaya Internet di Asia Tenggara

Tarif layanan Internet yang ditawarkan provider internet beragam, sesuai dengan kecepatan koneksi yang diberikan. Untuk mengetahui biaya Internet di asia tenggara Cuponation melakukan studi tentang biaya per Mbps setiap negara yang ada dalam daftar survei. Berdasarkan hasil studi terebut diketahui bahwa semakin tinggi kecepatan koneksi akan semakin rendah biaya per Mbps nya. Berikut adalah kisaran tarif koneksi internet di 6 negara Asia Tenggara berdasarkan Mbps nya.

Singapura       Rp. 325 -- Rp. 628 per Mbps
Malaysia         Rp. 677 -- Rp. 8,959 per Mbps
Thailand         Rp. 1,080 -- Rp. 7,487 per Mbps
Filipina           Rp. 2,602 -- Rp. 35,586 per Mbps
Indonesia        Rp. 14,895 -- Rp. 43,500 per Mbps
Kamboja        Rp. 18,769 -- Rp. 70,385 per Mbps

Facebook juga ikut memaparkan Indeks Internet Inklusif tahun 2020 berdasarkan hasil riset yang dirilis oleh The Economist Intelligence Unit (EIU). Berdasarkan data, ternyata kecepatan internet seluler di Indonesia lebih lambat daripada rata-rata kecepatan internet seluler di negara Asia. Kecepatan download seluler di Indonesia menurut riset EIU adalah 14 Mbps. Sementara angka kecepatan download rata-rata negara Asia adalah di angka 30,9 Mbps. Untuk kecepatan rata-rata upload di Indonesia adalah 10,9 Mbps, mendekati kecepatan upload rata-rata Asia yang mencapai 12,9 Mbps.

Penetrasi internet mobile 4G di Indonesia menurut riset tersebut sudah cukup luas. Sebanyak 92,7 persen pengguna internet di Indonesia dinyatakan sudah terjangkau oleh jaringan seluler 4G. Sedangkan untuk jaringan 3G dan 2G, cakupan masing-masing adalah 93,4 persen dan 98,7 persen. Cakupan layanan 4G ini sangat mengesankan, mengingat geografi Indonesia merupakan negara kepulauan yang cukup luas.

Image By Open Signal


Kondisi internet di Indonesia berada di posisi ke-57 dari 100 negara yang masuk dalam daftar Indeks Internet Inklusif tahun 2020 tersebut. Indeks Internet Inklusif sendiri merupakan tolak ukur yang memperhitungkan tingkat cakupan koneksi internet berdasarkan penilaian dari empat kategori yaitu Ketersediaan, Keterjangkauan, Relevansi, dan Kesiapan. Dalam hal ketersediaan, kategori ini mengukur apakah suatu negara dapat mengakses internet dengan baik atau tidak. Dalam hal keterjangkauan, indikator ini mengukur apakah individu di suatu negara mampu menggunakan layanan internet secara baik. Sedangkan dari segi kesiapan, kategori ini mengukur apakah individu di suatu negara mengetahui cara menggunakan layanan internet dengan baik serta mengukur tingkat literasi digital perorangan. Untuk segi relevansi, kategori Relevansi melihat apakah dengan mengakses internet, suatu individu di suatu negara dapat menemukan konten yang relevan dengan minat mereka masing-masing.

Baca Juga:

Dalam hal keterjangkauan, Indonesia menempati peringkat ke-61, artinya internet di Tanah Air masih dinilai cukup terjangkau dibandingkan negara lain seperti Kamboja (71) dan Filipina (82). Terkait dengan ketersediaan internet, Indonesia menduduki posisi ke-55 yaitu peringkat di atas India (68) dan Pakistan (86), artinya ketersediaan koneksi internet di Tanah Air dinilai sudah cukup memadai secara luas.

Dalam hal relevansi, Indonesia berada di peringkat ke-62 yaitu satu peringkat di atas Uzbekistan (63). Peringkat tersebut mengalami peningkatan 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari segi kesiapan, Indonesia menduduki posisi ke-40. Hal itu menandakan bahwa sebagian masyarakat sudah memahami bagaimana cara memanfaatkan layanan internet secara baik.

Kemudian berdasarkan riset yang dirilis Hootsuite, pada Januari 2020, kecepatan Internet Indonesia rata-rata hanya 20,1 Mbps atau jauh di bawah rata-rata dunia (worldwide) yang mencapai 73,6 Mbps. Kecepatan koneksi Internet rata-rata Indonesia nyaris terendah dibandingkan dengan lebih dari 40 negara lainnya. Dalam penelitian Hootsuite, Indonesia tampak kalah dengan beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Thailand, Vietnam, Singapura, dan Malaysia. Bahkan, Singapura tercatat memiliki kecepatan jaringan tertinggi mencapai 200,1 Mbps. Kondisi yang sama terjadi untuk kecepatan mobile Internet. Indonesia rata-rata hanya memiliki kecepatan 13,3 Mbps atau terendah kedua di antara negara-negara yang ditampilkan dalam riset tersebut.


Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika, ada enam faktor penyebabnya:


Pertama, faktor geografis.

Indonesia memiliki bentangan wilayah geografis yang sangat luas serta kondisi yang berbeda-beda. Sebagian wilayah Indonesia memiliki kontur geografis berupa pegunungan dan banyak sungai. Kondisi ini menyebabkan kendala terhadap pembangunan infrastuktur fisik termasuk infrastruktur telekomunikasi.

Kedua, tidak meratanya infrastruktur.


Masyarakat umumnya Indonesia menggunakan jaringan seluler (mobile broadband) sebagai jaringan aksesnya. Lantaran jaringan seluler menggunakan spektrum frekuensi radio sebagai media pengantar, ada kerentanan terhadap gangguan sehingga kualitas jaringan yang diterima masyarakat kurang optimal.

Ketiga, faktor daya beli masyarakat.


97 persen masyarakat Indonesia masih menggunakan Internet melalui layanan seluler dengan skema prabayar yang dinilai lebih terjangkau. Sedangkan masyarakat yang berlangganan menggunakan jaringan serat optik (FTTH) jumhalnya sedikit karena harganya relatif mahal.

Keempat adalah jumlah pengguna Internet yang besar.


Berdasarkan data Kementerian Kominfo, saat ini jumlah pengguna Internet Indonesia di atas 175 juta orang. Kondisi ini akan sangat berpengaruh terhadap kapasitas yang harus disediakan oleh penyelenggara telekomunikasi.

Baca Juga:


Kelima, masih perlunya pembangun jaringan the last mile serat optik dan perangkat elektronik lainnya sebagai pendukung Palaparing.


Infrastruktur ini untuk menjangkau wilayah kecamatan dan desa sampai pemukiman pengguna internet di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Keenam, Johnny menduga ada bias dari metodologi yang digunakan Hootsuite.


Kemeninfo mengatakan bahwa laporan dari Hootsuite untuk data internet connection speed yang digunakan bersumber dari Ookla. Ookla hanyalah salah satu dari segelintir penyedia pengukuran kecepatan broadband di dunia.

OpenSignal dalam laporan status Pengalaman pada Jaringan Seluler dan dalam laporan Pengalaman Game seluler, ada negara-negara yang sering berada di peringkat yang lebih rendah dan juga sekelompok negara yang lebih kaya seperti Singapura, Jepang , atau Belanda secara rutin menjadi yang teratas. Negara yang berkembang seperti Filipina atau Indonesia terkadang memperlihatkan pengalaman seluler yang buruk.

Negara kecil dan kaya seperti Singapura memiliki banyak keuntungan karena geografi yang sangat tidak luas / padat dan tingkat produk domestik bruto (PDB) yang tinggi yang memungkinkan operator mereka untuk berinvestasi dengan lebih mudah pada peralatan jaringan terbaru. Opensignal telah menganalisis kecepatan internet seluler sebuah negara bersama dengan PDB mereka. Opensignal menemukan korelasi kuat antara Pengalaman Kecepatan Download seluler dan PDB per kapita negara-negara di Asia Tenggara dan Selatan.

Image By Open Signal


Filipina berada di peringkat terbawah dari seratus negara dalam Pengalaman Permainan Game seluler dibandingkan dengan PDB per kapita, Filipina berada di tengah-tengah. Kecepatan penggunanya sedikit lebih rendah dari Indonesia, Indonesia memiliki PDB yang lebih tinggi dari Filipina. Kontras dengan Malaysia yang memiliki PDB per kapita yang jauh lebih tinggi, namun kecepatan unduh penggunanya hanya sedikit lebih cepat daripada Filipina. Opensignal membandingkan anggota ASEAN dan SAARC.

Image By Open Signal


Ada juga hubungan antara kepadatan populasi suatu negara dan kecepatan unduh seluler penggunanya. Negara-negara dengan populasi yang lebih padat cenderung menikmati kecepatan yang lebih tinggi, kemungkinan besar karena lebih mudah melayani populasi perkotaan yang padat daripada menawarkan konektivitas seluler di daerah pedesaan, pegunungan dan daerah dengan infrastruktur listrik yang lemah. Sekali lagi, ini membantu menjelaskan mengapa Singapura sering menempati peringkat tinggi dalam perbandingan global. Ketika kita membandingkan negara-negara ASEAN dan SAARC dengan menggunakan kepadatan penduduk, kita menemukan bahwa negara-negara seperti Filipina kembali berada di tengah.

Image By Open Signal


Namun, tren PDB dan kepadatan populasi mungkin akan berubah, yang menunjukkan bahwa negara-negara yang menerapkan jaringan seluler dengan cerdik dapat menaikkan peringkat internasional. Myanmar, Vietnam, dan Laos semuanya menawarkan kepada pengguna Pengalaman Kecepatan Download yang lebih tinggi daripada yang diperkirakan dari PDB per kapita atau kepadatan populasi. Juga dengan investasi konektivitas baru yang masuk ke Indonesia, seperti Palapa Ring, sepertinya persaingan baru akan segera tiba.

Jika kita melihat laporan – laporan tersebut maka tampaknya jaringan 5G memang masih membutuhkan waktu cukup lama untuk sampai ke Indonesia. 4G Indonesia masih tertinggal di ASEAN dari sisi kecepatan, internet 4G Indonesia juga masih tertinggal jauh dan menjadi yang paling lambat di Asia Tenggara.Internet 4G tercepat di ASEAN dan juga di dunia, masih dipegang oleh Singapura.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) menyebutkan bahwa hingga pertengahan Juni 2020 kecepatan unduh seluler 4G internet Tanah Air mengalami pertumbuhan yang signifikan. Selama normal baru atau setelah pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), kecepatan unduh rata-rata operator seluler berkisar antara 9,59 Mbps sampai 23,84 Mbps.

Ditulis oleh : Andrian S