Resesi Perusahaan Telekomunikasi

 Corona (Covid-19) Dapat Mengancam 'Resesi'​ Perusahaan Telekomunikasi

Tahun 2020 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi industri telekomunikasi Indonesia. Sebenarnya sejak 2018, industri telekomunikasi mengalami perlambatan bahkan sempat mengalami pertumbuhan negatif sebesar minus 7,3 persen.

Pada 2019, tanda-tanda perbaikan sebenarnya mulai ditunjukkan oleh industri telekomunikasi ini. Hingga kuartal tiga 2019 kinerja emiten sektor telekomunikasi pada saat itu terbilang cukup cukup baik. Meski menunjukkan tanda-tanda perbaikan, situasi yang dihadapi oleh industri telekomunikasi Indonesia tidak serta merta langsung bergairah. Riak-riak kecil dan kejutan-kejutan kerap mewarnai perjalanan selama tahun 2019.

Memasuki 2020 hantaman besar menerpa hamper semua industri Indonesia, bukan hanya industri telekomunikasi saja, sektor lain pun turut terdampak akibat pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Pandemi ini membuat perekonomian dunia melesu karena telah memukul sendi-sendi perekonomian global akibat pembatasan sosial.

Namun dalam menghadapi Covid-19, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memiliki peranan penting yang menjadi andalan dalam memerangi pernyebaran virus ini.

Mari kita lihat bagaimana kinerja emiten telekomunikasi pada semester I - 2020? Dua emiten telekomunikasi mencatatkan kerugian sepanjang Januari-Juni 2020. Pertama, PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) dengan kerugian mencapai Rp 1,2 triliun. Jumlah tersebut 14% lebih tinggi dibandingkan kerugian pada semester I - 2019. Kedua, PT Indosat Tbk (ISAT) yang mengalami kerugian sebesar Rp 341,1 miliar. Kerugian itu lebih dalam dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp 331,9 miliar.

Image By Katadata


Meski begitu, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) membukukan laba bersih sebanyak Rp 10,9 triliun pada semester I - 2020. Jumlah tersebut turun tipis 0,8% dibandingkan laba pada Januari - Juni 2019. PT XL Axiata (EXCL) hingga saat ini belum menerbitkan laporan keuangan pada kuartal II-2020. Namun, pada kuartal I-2020, EXCL berhasil membukukan laba bersih Rp 1,5 triliun, naik 2.557% dari kuartal I tahun lalu Rp 57,2 miliar.

Industri telekomunikasi sangat terkait erat dengan ekonomi global, regional dan juga nasional. Secara umum, industri telekomunikasi telah berkembang beberapa kali lipat dari tingkat ekonomi yang mendasarinya. Akses ke telepon serta Internet, dengan solusi multimedia untuk e-bisnis, e-healty, e-learning, e-banking dan lain - lain, adalah semua elemen kunci untuk pembangunan yang berkelanjutan.

COVID 19 Menambah Cerita Buruk Industri Telekomunikasi


2020 baru saja kita mulai tetapi mulai Maret hampir negara di dunia dilanda wabah virus corona covid-19, dan paralel dengan itu beberapa negara berada dalam ambang resesi ekonomi, selain resesi global yang mungkin juga terjadi. Sebagian besar berita yang saat ini memberitakan kurs dolar melambung dari asumsi nilai dasarnya, beberapa harga komoditi ada yang naik tinggi dan juga ada yang jatuh, beberapa sektor pekerja harian juga banyak yang tutup karena sebagai orang kerja dari rumah dan juga sekolah dari rumah, banyak PHK yang menimpa pekerja karena beberapa perusahaan mulai tutup karena kesulitan cash flow. Alurnya setelah krisis kesehatan, kemudian akan menyebabkan krisis finansial, masuk ke krisis ekonomi dan selanjutnya jika tidak tertangani dengan baik akan menyebabkan krisis sosial. Kalau sektor ekonomi kemudian mengalami ‘bangkrut’, maka banyak negara juga akan ‘bangkrut’, dan satu-satunya hal yang naik pada saat itu adalah tingkat pengangguran. Dulu ada kejadian Wall Street Crash tahun 1929, kemudian ada krisis 1997/1998, juga ada krisis keuangan 2008/2009.

Adanya keruntuhan kepercayaan yang tiba-tiba di beberapa tempat dan sektor, tidak diragukan lagi akan mengejutkan dunia terlebih lagi jika krisis keuangan benar – benar terjadi. Seperti yang terjadi setahun sebelum jatuhnya Lehman Brothers pada 15 September 2008. Ketidakmampuan dan ketidakmauan Departemen Keuangan AS untuk menebusnya, setelah penyelamatan Freddie Mac dan Fanny Mae, merupakan pesan tegas kepada pasar keuangan bahwa telah terjadi krisis besar di pasar.

Jadi bagaimana tarif telekomunikasi pada saat kekacauan keuangan itu terjadi? Ketika Lehman Brothers tenggelam, sebagian besar perusahaan tidak terlihat bukti yang menunjukkan adanya masalah/ resesi. Millicom International, sebuah bisnis berbasis di Luksemburg melaporkan adanya kinerja kuartalan yang kuat (dengan peningkatan 50% dalam pelanggan dan pertumbuhan lebih dari 25% dalam metrik keuangan utama). Sepertinya bisnisnya terlihat berkinerja baik di walaupun ada perubahan dramatis dalam ekonomi global saat itu. Saat itu suasana global mengalami peningkatan inflasi yang berarti bahwa harga pangan yang lebih tinggi, penghasilan orang – orang juga mulai berkurang, pasar saham juga akan turun drastis saat itu.

Kemudian ketika Millicom bergabung dengan dua perusahaan lain, raksasa Rusia MTS dan Vimpelcom. MTS kemudian melaporkan bahwa ada pembekuan staf dan upah, serta memotong pengeluaran yang tidak penting. Vimpelcom juga kemudian mencatat akan mengadopsi kebijakan kehati-hatian terhadap biaya. Kemudian saham kedua perusahaan tersebut terlihat terlihat turun, saat itu masih belum jelas turunnya kenapa, apakah ada hubungannya dengan kondisi perdagangan pasar di Rusia, Ukraina, Uzbekistan atau tidak. 

Baca Juga:

Saat itu, tidak satu pun dari laporan dari para pemimpin industri global yang memperlihatkan kekhawatiran atau perkembangan yang tidak diinginkan. Kemudian Vodafone, France Telecom dan para pemimpin lain dari industri seluler di Eropa pun mulai memperingatkan pertumbuhan pendapatannya yang lebih lambat. Di Amerika Utara, tingkat penggunaan tetap tinggi hanya saja mulai merangkak pelan. AT&T melaporkan laba yang lebih rendah, di Amerika Latin, baik America Movil maupun Telefonica tidak melihat banyak kekhawatiran, sementara di Afrika dan Asia, pertumbuhan juga terus berlanjut.

Keadaan industri telekomunikasi saat itu kelihatan tetap seperti biasa. Sampai kemudian BT mengeluarkan kabar bahwa labanya turun untuk pertama kalinya, sahamnya jatuh di bawah harga aslinya. BT mengidentifikasi penyebab masalahnya ada pada divisi layanan global, bukan tingkat lokal Inggris.


Cisco System Vendor Melejit Saat Pandemic


Cisco Systems, vendor peralatan Internet terkemuka mengatakan pendapatannya YoY (bukan laba) cenderung turun antara 5% dan 10%. Salah satu masalahnya adalah pasar Eropa saat itu berada di bawah tekanan. Jerman masih belum terpengaruh saat itu, namun Inggris, Italia, Belanda dan Spanyol semuanya mengalami penurunan dua digit dalam pesanan YoY.

Masalah likuiditas saat itu juga menjadi penyumbang masalah. Banyak perusahaan telekomunikasi terkemuka mempunyai tingkat pinjaman yang tinggi. Portugal Telecom adalah contohnya, menyusul persaingan dengan Sonaecom, Portugal Telecom melakukan pembelian kembali sahamnya sebanyak € 2,1 miliar untuk meningkatkan kepercayaan para pemegang saham dan ini membuatnya berhutang sekitar € 7 miliar, 40% di antaranya hutang jangka pendek (harus dibayar pada waktu dekat). Ternyata fasilitas yang ada tidak cukup untuk menutup semua hutangnya, dan krisis likuiditasnya bertambah parah.

Vodafone yang perkasa, juga mendapati dirinya mengeluaran kenaikan tarif jangka pendeknya, dan itu terjadi pada bisnis seluler terbaik di dunia. Sampai pada akhirnya, regulator meminta Vodafone dan para pesaingnya untuk memotong tarif mereka.

Ditulis oleh : Andrian S