Xiaomi stop produksi smartphone 4G

 Xiaomi telah mengejutkan industri elektronik konsumen dengan produk inovatif dan terjangkau sejak awal. Didirikan pada 2010, Xiaomi dengan cepat menjadi pemimpin smartphone di pasar China.

Keberhasilannya dikaitkan dengan taktik e-commerce nya yang inovatif, memberinya semacam keuntungan (harga yang lebih murah) pada para pembeli yang kemudian mampu meningkatkan permintaan untuk smartphone. Namun, kesuksesan itu tidak bertahan lama karena orang lain mulai menggunakan taktik yang sama dan meluncurkan produk dengan fitur dan kisaran harga yang serupa. Akhirnya, Xiaomi kehilangan pangsa pasar smartphone di China karena perusahaan seperti Oppo, Vivo, dan Huawei mulai mampu menyalipnya.


Xiaomi melaporkan pendapatan 3Q19 sebesar Rmb 53,7bn (+ 5,5% YoY / + 3,3% QoQ), ini lebih baik dari ekspektasi pasar. Laba kotor 3Q19 mencapai Rmb8.2bn (+ 25.2% YoY / + 13.5% QoQ). Marjin kotor terus membaik, dari 14,0% di 2Q19 dan 12,9% di 3Q18 menjadi 15,3% pada 3Q19, ini berkat ekspansi margin kotor perangkat keras nya. Untuk memposisikan dirinya lebih baik di pasar 5G yang akan datang, Xiaomi meningkatkan biaya R&D sebesar 32,5% YoY. Biaya R&D naik menjadi 3,8% pada kuartal 3Q19 dari 3,0% pada kuartal 4Q19. Laba bersih non-IFRS Rmb 3.5bn (+ 20,3% YoY / -4,5% QoQ). Dengan manajemen persediaan yang proaktif, keunggulan kompetitif dalam rantai pasokan dan peningkatan investasi di R & D akan memungkinkan Xiaomi meningkatkan pangsa pasar di era 5G sambil mempertahankan margin yang moderat.


Percaya Diri Menyetop Produksi 4G Smartphone

CEO Xiaomi, Lei Jun mengatakan bahwa perusahaan yang dipimpinnya akan sengaja mengurangi produksi ponsel 4G, bahkan pada akhir tahun 2020 Xiaomi sudah tidak membuat lagi smartphone 4G. Sebagai gantinya, seluruh ponsel besutan Xiaomi dan Redmi yang meluncur pada tahun depan ditargetkan sudah mengadopsi teknologi 5G.


Menurut Lei Jun, 5G akan merevolusi industri karena akan banyak diaplikasikan dalam konferensi video 4K / 8K, cloud gaming (streaming game), kendaraan otonom, dan kegiatan otomatisasi lainnya. Demi mencapai target tersebut, Xiaomi dan Redmi kemudian diarahkan untuk membuat perangkat berbasis 5G agar bisa lebih cepat beradaptasi. Xiaomi dan Redmi telah meluncurkan smartphone baru setiap bulan di pasar yang berbeda sejak awal 2020, sebagian besar handset baru mereka di China berkemampuan 5G.


Demand 4G Smartphone di China Sudah Saturasi

Menurut CEO Xiaomi, Lei Jun bahwa penghentian produksi ponsel 4G itu hanya akan berlaku di China. Sebab, saat ini hampir semua smartphone yang meluncur di China sudah bisa menggunakan 5G. Keputusan untuk menyetop smartphone 4G di pasar dalam negeri mereka dapat dimengerti, mengingat mayoritas jaringan di China telah beralih ke teknologi konektivitas baru 5G. Xiaomi telah menyadari bahwa pasar smartphone China telah menjadi jenuh dan untuk menjaga laju pertumbuhan smartphone, Xiaomi perlu berekspansi secara global ke pasar yang belum jenuh. Selanjutnya pasar India lah yang akan melihat ketersediaan smartphone 4G Xiaomi untuk beberapa waktu, karena India belum meluncurkan 5G dan India juga merupakan pasar Xiaomi yang cukup besar. Selain itu, chip berbasis 5G dari Qualcomm dan MediaTek bisa lebih murah bagi produsen smartphone untuk mengadopsi secara global pada 2020/2021.


Untuk mempersiapkan penggantian 4G ke 5G tahun 2021, Xiaomi mengadopsi manajemen persediaan proaktif, dimana satu sisi memang mengarah pada penurunan pangsa pasar di China, tetapi di sisi lain membuka jalan bagi peluncuran model 5G baru tahun berikutnya. Xiaomi berencana untuk meluncurkan lebih dari 10 model 5G baru pada tahun 2020, dan berharap untuk mendapatkan kembali pangsa pasar di era 5G. Kerugian di pasar China diimbangi oleh penjualan yang kuat di luar negeri. Xiaomi melanjutkan posisi terdepan di pasar India dengan pangsa pasar 27,1% (menurut IDC). 

Sementara itu, memasuki pasar Eropa adalah sebagai katalis untuk pertumbuhan penjualan. Secara keseluruhan, total pengiriman 32,1 juta unit di 3Q19 (-4% YoY / flat QoQ). Pendapatan tumbuh 0,8% QoQ menjadi Rmb 32.3bn di 3Q19. Dengan strategi yang hati-hati, marjin kotor meningkat dari 8,1% kuartal terakhir menjadi 9,0% pada 3Q19.

Efek Pandemi Covid-19

Wabah Covid-19 di China sangat mempengaruhi rantai pasokan Xiaomi. Pandemi Covid-19 memaksa Xiaomi untuk melakukan subsidi senilai 250 juta yuan (lebih dari Rp 516 miliar) untuk produksi smartphone Xiaomi 5G. Selain itu, Xiaomi akan berinvestasi lebih dan fokus untuk mengembangkan ekosistem AIoT (artificial intellegence of things) yang terkoneksi dengan jaringan 5G. Pabrik Xiaomi di China akan memiliki sumber daya yang cukup untuk memproduksi ponsel 5G. Xiaomi juga akan bekerja sama dengan pemerintah China untuk membangun disaster warning system yang solid menggunakan teknologi 5G.



 

Pertumbuhan smart TV Membantu Meningkatkan Margin

Segmen ini melaporkan pendapatan sebesar Rmb 15, 6 miliar (+ 44,4% YoY / 4,4% QoQ). Secara khusus, pengiriman TV pintar Xiami mencapai 3,1 juta unit, naik 59,8% YoY, ini mempertahankan Xiaomi pada posisi teratas di China dengan pangsa pasar 16,9% pada 3Q19. 

Margin kotor sektor ini naik menjadi 12,8% dari 11,2%. Xiaomi juga sukses meluncurkan mesin kondisioner dan mesin cuci, Xiaomi juga sukses meluncurkan Mi Refrigerator pada Oktober 2019, hal ini semakin memperluas portofolio produk IoT. Mengenai platform AioT nya, jumlah perangkat yang terhubung ke platform AIoT terbuka tumbuh kuat sebesar 62% YoY menjadi 213 juta unit pada 3Q19.

Fintech dan Youpin juga Ikut Mempertahankan Momentum

Pendapatan layanan internet tumbuh sebesar + 12,3% YoY / + 15,9% QoQ hingga Rmb 5,3bn pada 3Q19. Pendapatan iklan turun sebesar 9% YoY karena headwinds makro. IVAS lainnya, termasuk Fintech dan Youpin, tumbuh kuat sebesar 56,8% YoY. 

Margin kotor turun sedikit menjadi 62,9%. MIUI MAU mencapai 291,6 juta (+ 29,9% YoY / + 4,6% QoQ). Basis perangkat keras yang terpasang / terhubung, termasuk perangkat smartphone dan IoT, selalu mempunyai peluang dan potensi untuk pertumbuhan layanan internet Xiaomi di masa depan.


Kembangkan Riset 6G


Xiaomi akan mengembangkan penelitian jaringan 6G dan pembuatan internet berbasis satelit. Internet satelit akan menjadi kunci untuk menjangkau daerah pedesaaan yang tidak bisa dijangkau infrastruktur fixed-line dan mobile network. Harapannya penetrasi internet di China akan meningkat dengan pengembangan satelit internet ini.

Ditulis oleh : andrian sulistyono