Akan Seperti Apa Teknologi 6G ?

 Visi dan perencanaan komunikasi 6G telah dimulai, dengan tujuan untuk menyediakan layanan komunikasi tuntutan masa depan tahun 2030-an. Aplikasi komunikasi seluler 6G kedepan akan masih berkaitan pada manusia, dengan demikian keamanan yang tinggi, kerahasiaan, serta privasi harus menjadi fitur kunci teknologi 6G.


Peluncuran jaringan 5G sedang berlangsung dan diharapkan akan ramai secara komersial pada tahun 2020. Karena standardisasi 5G secara bertahap juga telah selesai, para peneliti kini telah mulai mempertimbangkan jaringan komunikasi 6G di masa depan. Kami percaya bahwa komunikasi seluler konvensional masih akan menjadi aplikasi penting dari 6G di tahun 2030-an, meskipun aplikasi lainnya juga akan beredar di mana-mana dan juga semakin signifikan. Konsekuensinya, jaringan 6G ke depan haruslah human centric, daripada mesin centric, application centric atau pun data centric. Mengikuti alasan ini, keamanan tinggi, kerahasiaan, dan privasi harus menjadi fitur utama 6G. Selanjutnya, pengalaman pengguna akan diadopsi sebagai matrik penting dalam jaringan komunikasi 6G.


Image By Adrian S

Dalam visi 6G, perhatian khusus diberikan pada masa pakai perangkat dan kelas layanan selama 6G, dibanding kecepatan data dan latensi. Sejumlah skenario komunikasi baru di jaringan masa depan di tahun 2030-an diperkirakan mencakup panggilan holografik, jaringan terbang (HAPS, Satelit LEO, MEO, Pesawat, UAV), mengemudi dengan remote jarak jauh dan internet. Lebih lanjut, 6G diperkirakan akan mempunyai tingkat keandalan yang sama dengan keandalan komunikasi kabel. Secara khusus, desentralisasi jaringan berbasis pada teknologi blockchain juga diyakini akan menjadi kunci untuk menyederhanakan manajemen jaringan dan memberikan kinerja yang memuaskan dalam teknologi 6G.


Beberapa publikasi terbaru telah membahas implementasi praktis 6G, termasuk beberapa teknologi aksesnya, interfacenya dan juga pusat data untuk komunikasi 6G. Pola jaringan 6G diuraikan dengan arsitektur tanpa sel, alokasi sumber daya terdesentralisasi dan konektivitas super 3D sangat diharapkan ada di jaringan 6G. Komunikasi tipe mesin (MTC) dan solusi jaringan nirkabel spesifik vertikal untuk 6G dapat memfasilitasi standar komunikasi spesifik industri yang ada dan memberikan solusi terpadu yang memungkinkan konektivitas tanpa batas untuk semua kebutuhan dalam industri vertikal. Di antara ide – ide teknologi 6G yang menarik perhatian diantaranya yaitu komunikasi THz, kecerdasan buatan (AI) dan permukaan cerdas yang dapat dikonfigurasi ulang (reconfigurable intelli-gent surfaces ). Ide – ide tersebut dipandang sebagai teknologi revolusioner dalam komunikasi nirkabel.


6G yang diberdayakan oleh AI diyakini akan mampu memberikan serangkaian fitur baru, misalnya agregasi diri, kesadaran konteks, konfigurasi diri dan pengaturan oportunistik. Selain itu, 6G yang diberdayakan AI akan memungkinkan transformasi dari radio kognitif menjadi radio cerdas. Pembelajaran mesin, sangat penting untuk mewujudkan 6G yang diberdayakan oleh AI dari perspektif algoritmik. Selain algoritma, permukaan cerdas yang dapat dikonfigurasi ulang juga digunakan untuk membangun fondasi perangkat keras AI. Permukaan cerdas yang dapat dikonfigurasi ulang juga dipertimbangkan sebagai masif MIMO 2.0 dalam 6G. Bahan-bahan yang menarik ini juga dapat menggabungkan indeks modulasi untuk menghasilkan peningkatan efisiensi spektral dalam jaringan 6G.


Terlepas dari hal - hal yang dibahas di atas, sejumlah proyek 6G juga telah dimulai di seluruh dunia, yang bertujuan untuk memulai dan mendefinisikan 6G pertama kali, yang kemudian akan membentuk kerangka kerja serta model bisnis komunikasi nirkabel. Yang pertama adalah Program Unggulan 6Genesis yang dikerjakan oleh sebuah konsorsium Finlandia. Penelitian ini kemudian diikuti oleh penelitian tentang Sistem Terabit Bidirectional Multi-user Optical Wireless untuk 6G LiFi (Light Fidelity), yang telah dimulai pada awal tahun 2019. Pada bulan Maret 2019, KTT Nirkabel 6G pertama diadakan di Levi, Finlandia dan secara resmi memicu dimulainya ‘perlombaan’ penelitian 6G di dunia akademis. Sejumlah lokakarya dan seminar skala kecil juga mulai diadakan di seluruh dunia untuk membahas kemungkinan 6G, misalnya Huawei 6G Workshop, Wi-UAV Workshop Globecom 2018 dan Carleton 6G Workshop.

Image By Adrian S


Selain kalangan akademis, 6G dan jaringan masa depan juga menarik badan standard, organisasi industri dan juga pemerintah. IEEE meluncurkan IEEE Future Network dengan tagline 'Enabling 5G and beyond' pada Agustus 2018. ITU-T Study Group 13 juga mendirikan ITU-T Focus Group Technologies untuk Network 2030 yang bermaksud untuk memahami persyaratan layanan untuk jaringan masa depan di tahun 2030. Ada lagi Project Loon juga dilakukan oleh Google secara independen, yang berencana untuk menyediakan koneksi internet yang andal kepada lima miliar penduduk. Sebuah kelompok riset yang bernama Terranova Project UE kini tengah berupaya menuju koneksi 6G dengan kemampuan transmisi 400 Gbps dalam spektrum THz. LG Electronics juga telah mengumumkan pendirian pusat penelitian 6G di Institut Sains dan Teknologi Korea, Daejeon, Korea Selatan. Samsung juga telah memulai penelitian 6G pada Juni 2019. SK Telecom juga mengumumkan kolaborasi dengan Nokia dan Ericsson dalam penelitian 6G pada 2019. Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat juga telah membuka spektrum 95 GHz hingga 3 THz untuk penggunaan penelitian 6G, yang menandai adanya partisipasi Amerika Serikat pada 6G. Ada lagi, proyek UE-Jepang di bawah pendanaan Horizon 2020 ICT-09-2017, yang disebut dengan 'Penelitian Jaringan di luar 5G', tengah menyelidiki kemungkinan digunakannya spektrum THz dari 100 GHz hingga 450 GHz.