Operator Indonesia menjual Tower demi Fiberisasi 5G

 Pada awalnya, hadirnya teknologi 5G telah membuka perdebatan tentang apakah jaringan serat optik atau 5G yang lebih baik. Walaupun sebenarnya debat ini didasarkan pada asumsi yang keliru, bahwa ketika teknologi 5G diluncurkan, itu akan menggantikan serat optik. Ternyata, jaringan 5G dan jaringan serat optik hadir untuk saling melengkapi. Tanpa 5G, serat optik akan kekurangan mobilitas, tanpa serat optik, tujuan revolusioner 5G tidak akan mungkin terjadi. Oleh karenanya jaringan nirkabel serat optik dan 5G harus terus saling melengkapi. 


Captured by Iphone

Jaringan 5G akan menawarkan kecepatan Gbps kepada konsumen dengan koneksi yang lebih andal. Tetapi untuk mewujudkannya, 5G tidak hanya membutuhkan akses ke spektrum frekuensi radio yang memungkinkan layanan speed tinggi, tetapi juga koneksi ke jaringan serat optik berkapasitas tinggi. 


Ketika makro sel kemudian berubah menjadi pico sel untuk mendukung 5G, kebutuhan untuk memfasilitasi penyebaran serat optik menjadi sangat penting. Awalnya hanya butuh satu serta optik untuk menyambungkan ke menara sel tunggal, yang melayani area 10 mil persegi, untuk era 5G maka serat optik harus terhubung ke sekitar 10, 20, atau bahkan 100 kali lipat dari jumlah sel sebelumnya. The Fiber Broadband Association memperkirakan  bahwa 5G akan membutuhkan penyebaran sekitar 1,4 juta mil serat optik untuk 25 wilayah perkotaan di Amerika Serikat.


Baca Juga


5G dan kota pintarnya, hanya bisa menjadi kenyataan bagi semua orang jika ada cukup infrastruktur serat optik untuk mendukungnya. Deloitte Consulting baru-baru ini melaporkan bahwa Amerika Serikat akan membutuhkan sekitar $ 130 miliar hingga $ 150 miliar dalam investasi serat optik selama lima hingga tujuh tahun ke depan untuk mendukung kompetisi broadband, cakupan area pedesaan dan penyebaran wireless untuk teknologi jaringan 5G. Seiring dengan investasi serat optik, pembuat kebijakan perlu menghilangkan hambatan regulasi sehingga lebih mudah untuk menyebarkan serat optik. 


Jaringan serat optik adalah kunci untuk teknologi 5G yang akan datang. Tidak ada IoT, proliferasi perangkat pintar, komputasi awan, atau mobil self-driving tanpa teknologi 5G, dan tidak ada 5G tanpa serat optik. International Telecommunications Union (ITU) mengatakan bahwa investasi modal yang sedang berlangsung terkait dengan infrastruktur serat optik diperkirakan mencapai total $ 144,2 miliar antara 2014 dan 2019. Salah satu pendorong utama investasi modal besar ke serat optik adalah penyebaran infrastruktur 5G.


5G akan berfungsi dengan baik seperti kapiler ( mobile fronthaul ) dari sistem jaringan kota, tetapi lalu lintas internet akan menempuh hampir seluruh perjalanannya di vena atau arteri (serat backhaul). Faktanya, seperti aliran darah manusia, hanya sekitar 11% dari lalu lintas yang dibawa oleh jaringan wireless (menurut sebuah studi oleh Deloitte), sementara 90% lalu lintas internet lainnya didukung dan dijalankan oleh jaringan wireline (serat optik). Sehingga di dunia 5G, pengalaman pelanggan akan ditingkatkan dengan titik akses sel kecil yang lebih baik. Tetapi pada akhirnya, kualitas dan keandalan jaringan nirkabel 5G akan tetap tergantung pada jaringan wireline (fiber optik) yang membawa lalu lintas ke dan dari sel kecilnya 5G.


Menurut Survei Operator 5G yang dirilis oleh Telecommunications Industry Association (TIA) pada tahun 2017, bahwa operator 5G yang menganggap serat optik itu penting untuk bagian backhaul dari jaringan 5G sebanyak 83 %. 


Sementara itu, pemerintah Indonesia juga telah menyelesaikan pembangunan infrastruktur backbone Palapa Ring pada Agustus 2019. Koneksi backbone serat optik sepanjang 36.000 kilometer itu akan menghubungkan akses broadband kecepatan tinggi dari ujung barat Indonesia menuju wilayah paling terpencil di Indonesia bagian Timur. Proyek broadband yang dibangun oleh Pemerintah melalui skema KPBU memiliki kecepatan tinggi dan jangkauan lebih dari 12.000 km kabel serat optik bawah laut dan terestrial, 49 Microwave Hops, dan mencakup daerah pegunungan dengan sumber daya listrik yang terbatas. 


Oleh karenanya sangat mendukung kebijakan pemerintah, dalam hal ini Kemeninfo bahwa Operator seluler wajib melakukan “fiberisasi” jaringan sebelum menggelar layanan 5G, semua BTS-nya harus terhubung dengan serat optik. There is no 5G without fiber optic, the future is 5G and there is no 5G without fibre optic.


Ditulis Oleh Andrian S