Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perkembangan Data Center di ASEAN

Melihat Kembali bagaimana Perkembangan Data Center di ASEAN


Perkembangan Data Center di ASEAN


Viettel IDC mengatakan bahwa pengembangan sejumlah besar pusat data di wilayah Vietnam telah memenuhi peningkatan AI, big data, IoT, dan teknologi lainnya yang mendukung Industri 4.0. Vietnam adalah pasar regional yang mencatat pertumbuhan tercepat dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan dua digit pada 2019-2024 [Vietel]. Karenanya, pasar lokal yang awlanya bernilai $ 165 miliar pada 2018, diperkirakan akan mencapai $ 294 miliar pada 2024.



COVID-19 Memicu Pergeseran Penggunaan Data


Filipina, Thailand dan Singapura telah menjadi negara yang mengoperasikan 5G. Di Vietnam, dua operator seluler terbesar (Viettel dan MobiFone) juga telah memperoleh lisensi untuk menguji teknologi 5G di Hanoi dan Kota Ho Chi Minh. Viettel akan melakukan pilotnya dengan kurang dari 140   base   station   pada   bandwidth   2.500-2.600MHz,   3.700-3.800MHz,   dan   27.100   - 27.500MHz. Sementara itu, MobiFone akan  melakukan  uji coba pada bandwidth 2.600MHz dengan kurang dari 50 base station.


Menurut Kementerian Informasi dan Komunikasi Vietnam, teknologi 5G diharapkan dapat dikomersialkan mulai awal Juli 2021. Saat ini, pabrikan ponsel pintar seperti Apple, Samsung, Huawei, Oppo dan merek smartphone lainnya telah meluncurkan perangkat yang mendukung 5G, menandakan bahwa sebagian besar pemain ponsel pintar utama sudah mendukung teknologi tersebut.


Sebuah laporan baru-baru ini yang diterbitkan oleh Facebook dan Bain & Company menunjukkan bahwa jumlah konsumen digital di Asia Tenggara akan mencapai 310 juta pada akhir tahun 2020, angka yang sebelumnya diperkirakan baru akan tercapai pada tahun 2025. Konsumen ini mencapai 69 persen dari seluruh kawasan, populasinya terdiri dari orang yang berusia 15 tahun ke atas. 


Meskipun transformasi digital telah berlangsung selama beberapa waktu di kawasan Asia Tenggara ini, pandemi COVID-19 telah mempercepat transisi tersebut. Karena tindakan social distancing, mengakibatkan lebih banyak orang mengadopsi gaya hidup yang berpusat pada rumah   dan   berbelanja   bahan   makanan,   pakaian,   elektronik,   dan   perabotan   secara online. Menurut  laporan  tersebut,  penetrasi  ritel  online  di  wilayah   Asia  Tenggara  ikut menyumbang 5 persen, lebih tinggi dari 4 persen India.



Prospek Data Center di ASEAN


Space DC yang berbasis di Singapura telah secara resmi meluncurkan pembangunan data center premium tier tiga di Indonesia di Indonesia. Data center tersebut menargetkan perusahaan – perusahaan yang ingin mengatur dan mengelola operasi mereka dari jarak jauh. Dukungannya termasuk mengelola pengiriman dan instalasi, memperbarui perangkat lunak, dan juga audit peralatan.


Dengan konektivitas yang disediakan oleh fasilitas ini, merek lokal dan global sekarang akan memiliki akses ke fasilitas pusat data kelas dunia untuk menghubungkan kawasan Asia Tenggara, kawasan yang ekonomi internetnya telah bernilai lebih dari $ 100 miliar, dan diperkirakan akan membengkak menjadi $ 300 miliar pada tahun 2025 [Space DC].


Space DC bukan satu-satunya perusahaan yang menunjukkan ambisinya di Asia Tenggara. Belum beberapa lama, miliarder Thailand Charoen Sirivadhanabhakdi, yang kekayaan keluarganya berakar pada sektor real estate, makanan dan minuman, sekarang juga tertarik pada proyek data center senilai $ 231 juta. Oleh karena itu, untuk memenuhi permintaan yang tinggi akan penyimpanan data di Thailand, melalui Frasers Property Charoen memutuskan untuk membangun perusahaan di Bangkok.


Pandemi telah mempercepat transformasi digital di antara perusahaan dan perusahaan bisnis di Thailand. Hal ini telah mendorong pertumbuhan permintaan pusat data pada kecepatan yang jauh lebih  tinggi dari  yang kami perkirakan  [Frasers Property]. Mereka  mengatakan bahwa  pembangunan Data Center sedang dalam konstruksi dan diharapkan dapat dioperasikan pada tahun 2021.


Menurut Technavio, skala pasar pusat data Asia Tenggara akan berlipat ganda pada tahun 2021 berkat  lonjakan  permintaan  layanan  berbasis  cloud  sebagai faktor kunci  untuk  mendorong pertumbuhan ini. Selain itu, pasar pusat data di kawasan ini diperkirakan akan melonjak lebih dari 6 persen pada 2019-2025.


Sektor ini telah menyaksikan pertumbuhan berkat investasi besar dari penyedia layanan komputasi awan global seperti Google, AWS, dan Alibaba. Karenanya, layanan berbasis cloud akan menjadi motivasi utama di seluruh pasar untuk tahun-tahun berikutnya. Penyedia layanan komputasi awan sedang mengembangkan pusat data di seluruh area yang bertujuan untuk memenuhi    permintaan    penyimpanan    data. Tahun    lalu,    Google    dan    Facebook    telah mengumumkan akan membangun pusat data di Singapura.


Alibaba pada tahun 2018 juga telah mengumumkan pengembangan pusat data ketiganya di Jakarta, Indonesia, setelah dua fasilitasnya berdiri di Malaysia dan Singapura.


Di Myanmar, pasar pusat data juga mulai viral. NTT Communications meluncurkan Pusat Data Myanmar Yangon Kamayut pada Juni 2018, menawarkan hampir 100 persen SLA untuk memenuhi kebutuhan besar interkoneksi dan colocation lembaga keuangan dan lembaga pemerintah. Burst Networks, bermitra dengan Flexenclosure, juga menyediakan fasilitas pusat data Tier IV di Myanmar. Bisnis lain yang terlibat dalam pembangunan pusat data di negara tersebut diantaranya TrueIDC, KBZ Gateway, dan Myint & Associates.


Terlepas dari potensi besar untuk Data Center di ASEAN, sektor ini merupakan tantangan yang tidak dapat dihindari. Perwakilan Viettel mengatakan bahwa mengembangkan pusat data menghabiskan banyak waktu dan modal, dan perusahaan rentan terhadap serangan dunia maya,  kegagalan sistem, dan pemadaman listrik yang merupakan masalah umum di pasar negara berkembang.


Post a Comment for "Perkembangan Data Center di ASEAN"

close